Archive for the ‘Motivasi’ Category

Oleh Eko Jalu Santoso

Iklim kehidupan modern yang menghadirkan persaingan dan perubahan yang sangat dinamis seringkali memaksa banyak manusia untuk mencari terbosan-terobosan, mencari jalan alternative atau melakukan kreativitas agar berhasil memenangkan persaingan. Namun sayangnya banyak orang yang kemudian mengambil jalan pintas yang salah atau bahkan tidak sedikit yang menghalalkan segala cara demi meraih keberhasilan dalam Mengapa demikian ? Inilah indikasi karena banyaknya manusia yang tidak kokoh jiwanya.

Demikian juga kalau kita melihat dalam realitas kehidupan sekarang ini, mudah sekali ditemukan orang yang mengaku beragama tetapi tetap melakukan penyelewengan, korupsi, penipuan dan tindak pidana lainnya yang tidak sesusai dengan akhlaq umat yang beragama. Mengapa demikian ? Inilah indikasi bahwa banyak manusia yang meskipun mungkin beragama tetapi lemah jiwanya.

Banyak manusia yang meskipun mengaku beragama tetapi tidak berkualitas jiwanya.

Akibatnya banyak orang yang merasa meraih sukses, tetapi kesuksesannya tidak memberikan makna. Banyak orang yang meraih kekayaan, namun kekayaannya tidak memberikan arti bagi kemuliaan hidupnya. Kalaupun berhasil meraih kekuasaan, kekuasaannya tidak memberikan kesejahteraan bagi yang dipimpinnya. Inilah akibat dari manusia yang lemah jiwanya.

Lantas bagaimana caranya memperkokoh jiwa kita ? Bagaimana meningkatkan kualitas jiwa kita ?

1. Memahami Hakekat Hidup

Berusahalah untuk melakukan “inner journey” ke dalam diri kita sendiri agar dapat mengenali diri sendiri lebih dalam. Manusia yang dapat mengenali dirinya, mengerti hakekat hidupnya akan dapat menemukan siapa Tuhannya yang sebenarnya. Mereka yang dapat menemukan Tuhannya akan memahami posisi dirinya dan mengerti tujuan tertinggi hidupnya. Manusia yang memahami dirinya, mengerti hakekat hidupnya dan mengenali siapa Tuhannya yang sebenarnya akan memiliki kekuatan jiwa.

2. Mencari ilmu lebih besar

Kecenderungan banyak manusia sekarang ini adalah mencari harta lebih besar dari pada mencari ilmu. Akibatnya banyak orang yang mendewakan harta, kemudian mudah menghalalkan segala cara demi meraih tujuan kekayaan harta. Sebaiknya mencari ilmu lebih besar dari pada mencari harta. Orang mengatakan bahwa 1 orang yang pandai (berilmu) lebih ditakuti syaithan dibanding 1000 orang yang rajin ibadah tetapi tidak berilmu.

Maknanya adalah mereka yang memiliki ilmu tidak akan mudah tergoda oleh berbagai kehidupan duniawi yang menyilaukan yang sesungguhnya dalag godaan syaithan. Sedangkan orang yang tidak berilmu, mudah terjebak dalam kehidupan dunia kemudian mengabaikan nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Karena orang yang berilmu mengetahui pintu-pintu syaithan dan lebih mampu menjaga ibadahnya, menjaga kekayaannya, menjaga kekuasaannya, menjaga kehidupannya dari riya dengan ilmu (ma’rifat)-nya yang dalam.

3. Mengendalikan Ego Dan Nafsu

Ibnu Qoyyim Az-Zaujiyah berkata : “Syahwat itu seperti kuda liar. Untuk menjinakkannya dan menaikinya perlu waktu lama dan pengorbanan yang tidak sedikit Karena itu jadilah orang yang mengendalikan kuda.”

Mengendalikan hawa nafsu tentu tidaklah mudah, karena inilah perang terbesar sesungguhnya dalam kehidupan manusia. Banyak manusia yang kalah dan akhirnya menjadi orang yang berjiwa lemah dan terjerumus dalam kekangan hawa nafsunya. Mereka memperturutkan hawa nafsunya dengan menghalalkan segala cara. Ingin meraih kekayaan berlimpah dengan cara-cara yang tercela. Ingin menggapai kekuasaan dengan cara-cara yang tidak mulia. Ingin meraih kesuksesan bisnis dengan cara-cara yang melanggar moral dan etika, dan lain-lain sebagainya.

Diperlukan latihan-latihan akan dapat menundukkan ego dan hawa nafsu kita. Salah satu cara yang sangat efektif dalam melatih diri kita mengendalikan ego dan nafsu adalah dengan ibadah puasa. Maka hendaklah puasa ramadhan ini benar-benar digunakan sebagai latihan dalam mengendalikan ego dan nafsu kita, sehingga berhasil melahirkan kekuatan jiwa.

Ego dan nafsu pribadi seringkali membawa seseorang pada perasaan serba kurang, serba tidak cukup, merasa tidak pernah puas dengan apa yang diraih, sehingga menjadi manusia yang tidak mudah bersyukur. Hidup seperti ini menjadikan jiwanya lemah dan serba tidak damai dalam hatinya. Namun sebaliknya mereka yang memiliki kemampuan mengendalikan ego dan nafsu pribadinya akan menjadi manusia yang mudah bersyukur dan menjadikan dirinya selalu merasa hidupnya berkecukupan dan damai.

4. Memandang Kehidupan Dengan Seimbang

Orang bijak mengatakan, “Barangsiapa yang mengejar dunia semata, maka dunia akan semakin menjauh dan semakin tak terkejar. Tetapi, barangsiapa yang mengejar akhirat dengan keikhlasan hatinya, maka yakinlah bahwa dunia akan mengejarnya.” Maknanya adalah bagaimana kita dapat menyeimbangkan kehidupan ini dengan tetap realistis dalam kehidupan dunia yang modern tanpa mengabaikan tujuan tertinggi kehidupan akhirat nanti.

Kesuksesan dunia dengan berbagai simbul-simbulnya seperti kekayaan harta benda, kekuasaan, popularitas dan lain sebagainya adalah penting dan pantas untuk diperjuangkan. Namuan yang harus diperhatikan adalah cara-cara meraih simbul-simbul kesuksesan duniawi itu haruslah dilakukan melalui cara-cara yang dibenarkan oleh syariat yang ditetapkan Tuhan. Tidak melanggar norma, etika, moral, suara hati nurani yang merupakan suara kemuliaan Tuhan. Kemudian dapat menggunakan simbul-simbul kesuksesan yang diperolehnya untuk memberikan manfaat bagi kesuksesan kehidupan akhiratnya. Inilah yang saya maksukan dengan memandang kehidupan dengan seimbang. Tetap realistis dalam kehidupan modern dengan tetap memiliki idealisme pada nilai-nilai spiritualitas.

Semoga Bermanfaat. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dan semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah S.W.T. Salam Motivasi Nurani.

Sumber Artikel: http://majalah.dompas.net/

Perihal Penulis:

Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia dan Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, diterbitkan Elex Media Komputindo. Tulisan-tulisannya bisa diperoleh di http://www.ekojalusantoso.com/

Oleh Wuryanano

Dari berbagai ungkapan definisi sukses yang berbeda-beda untuk setiap orang, maka saya coba memberikan sebuah pengertian sukses yang mungkin cocok untuk kita semua, yaitu: “sukses adalah jika kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa merugikan orang lain dan kita bisa menerimanya dengan senang hati, kemudian kita bisa membantu banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita dengan rasa belas kasih dan tulus ikhlas dengan penuh rasa puas”. Inilah definisi sukses menurut saya, dan saya yakin banyak orang setuju dengan definisi sukses ini. Bagaimana menurut Anda?

Cobalah Anda cermati firman Allah di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Kahfi, ayat 30 berikut ini: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentunya Kami tidak akan mengabaikan orang-orang yang melakukan perbuatan baik (itu)”. Bayangkan, betapa sangat baiknya kehendak Allah untuk memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang suka beramal saleh, orang-orang yang senang memberi dan membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Jika Allah sudah berfirman dan berjanji, pasti Dia melaksanakan janji-Nya tersebut.

Orang sukses memang semestinya tidak hanya merasakan manfaatnya bagi diri sendiri. Orang sukses seharusnya memang tidak memikirkan dirinya sendiri. Orang sukses seharusnya tidak menjadikan dirinya seorang yang egois. Yah – orang sukses semestinya bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitarnya. Orang bisa dikatakan sukses, jika dia bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar tempat dia tinggal, dan bisa saja lebih meluas jauh dari tempat tinggalnya. Anda bisa disebut sukses, jika orang lain di sekitar Anda juga bisa ikut merasakan kebahagiaan sukses yang Anda rasakan itu. Ingatlah dengan janji Allah sebagaimana tersirat di dalam ayat suci tersebut di atas.

Sebaliknya, jika Anda telah mendulang sukses secara materi dengan pola hidup berkelimpahan, tetapi orang-orang di sekitar Anda merasakan hal yang bertolak belakang dengan Anda. Banyak diantara mereka butuh pertolongan Anda, tetapi Anda merasa berat untuk mengulurkan tangan membantunya, maka dalam hal ini Anda masih belum bisa disebut sebagai orang sukses – ini karena Anda masih hanya bisa memikirkan diri sendiri. Anda masih sangat egoistis, tidak mau melihat kepada orang-orang yang memang membutuhkan bantuan dari Anda. Orang sukses tidak pernah merasa berat membantu sesama yang benar-benar memerlukan uluran tangan kita.
Makna sukses sesungguhnya adalah jika pemahaman tentang sukses, antara diri kita dengan kehendak Allah, telah “seiring dan sejalan”. Dengan kalimat lain, jika kita mau mendengarkan dan menjalankan petunjuk dari Allah tentang bagaimana cara kita untuk berbuat kebaikan di muka bumi ini, maka sudah tentu bisa dipastikan…kita bakal segera mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan sejati. Jadi, Anda akan memperoleh sukses sejati kalau keinginan Anda dan keinginan Allah sudah “kompak”…jika keinginan Allah dan keinginan Anda sudah “sejalan”.

Sumber Artikel: http://majalah.dompas.net/

Perihal Penulis: 

WURYANANO seorang pengusaha di Jawa Timur. Buku-buku “Best Seller” yang ditulisnya diterbitkan oleh Penerbit ELEX MEDIA KOMPUTINDO (Kelompok GRAMEDIA). Tulisan-tulisannya bisa diperoleh di WURYANANO, SWASTIKA PRIMA.